Kotak Perspektif Kemenag/RA

Di lingkungan Raudhatul Athfal, penyusunan kurikulum dan asesmen diatur melalui Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 450 Tahun 2024 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Raudhatul Athfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, dan Madrasah Aliyah Kejuruan — diperbarui melalui KMA Nomor 1503 Tahun 2025 dengan tambahan Kerangka Dasar Kurikulum serta pendekatan Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta. Regulasi ini menempatkan pembelajaran dan penilaian di RA dalam kerangka yang sejalan dengan Kurikulum Merdeka secara umum, sekaligus menegaskan kekhasan keislamannya — termasuk dalam cara melaporkan capaian dimensi Nilai Agama dan Budi Pekerti.

Ada dimensi lain dari pelaporan yang jarang dibahas secara eksplisit: pelaporan sebagai bentuk amanah. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya” (QS. An-Nisa: 58). Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Tunaikanlah amanah kepada orang yang mempercayaimu” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dinilai hasan shahih).

Orang tua menitipkan anaknya kepada guru RA dengan kepercayaan penuh. Laporan perkembangan adalah salah satu bentuk konkret penunaian amanah itu — bukan sekadar dokumen administratif, melainkan kesaksian jujur tentang kondisi anak yang sesungguhnya: tidak dilebih-lebihkan untuk menyenangkan, dan tidak disembunyikan karena enggan menyampaikan kabar yang kurang menggembirakan. Prinsip deskriptif dan berimbang yang dibahas sebelumnya, dari sudut pandang ini, bukan sekadar kaidah menulis yang baik — melainkan tuntutan etis dalam menjalankan amanah pendidikan.

Kotak Perspektif Global

Peralihan dari nilai angka ke narasi deskriptif bukan langkah yang berdiri sendiri di Indonesia. Pendekatan yang secara khusus relevan adalah Learning Stories, dikembangkan oleh Margaret Carr untuk mendukung Te Whāriki, kurikulum PAUD nasional Selandia Baru yang pertama terbit 1996 dan direvisi 2017. Dijabarkan lebih lanjut dalam buku Assessment in Early Childhood Settings: Learning Stories (2001) dan kemudian Learning Stories: Constructing Learner Identities in Early Education (2012, bersama Wendy Lee), pendekatan ini kini diterapkan luas di berbagai negara.

Alih-alih mencatat kekurangan anak dibandingkan standar eksternal, Learning Stories menuliskan momen belajar spesifik sebagai narasi — sering ditulis seolah berbicara langsung kepada anak — yang berfokus pada disposisi belajar seperti minat, ketekunan, dan keberanian mencoba hal baru. Filosofi di baliknya sejalan dengan arah Kurikulum Merdeka: laporan bukan alat mengukur anak terhadap tolok ukur seragam, melainkan dokumentasi perjalanan belajar yang unik bagi tiap anak. Kesejajaran ini menegaskan bahwa pergeseran kebijakan Indonesia bukan penyederhanaan, melainkan keselarasan dengan praktik asesmen anak usia dini yang sudah teruji secara internasional selama lebih dari dua dekade.